Selasa, 27 Maret 2012

Perjalanan Dakwah Sang Perantau


Ahmad Irfan Syahindra “Batubara”. Itulah namaku, seorang pemuda kelahiran Jakarta, 22 Desember 1987. Ayahku berdarah Mandailing, suku yang berasal dari Sumatra Utara, ma’ku berdarah Jawa dari kota Kebumen. Aku juga mempunyai kakak perempuan yang sekarang telah menjadi seorang dokter sehingga aku dan kakakku mempunyai darah dan karakter dari kedua daerah ayah dan ma’ kami, walaupun kakakku mempunyai wajah dan karakter lebih mirip ayahku dan aku mempunyai wajah dan karakter yang lebih mirip ma’ku. Sehingga kami adalah kakak beradik yang dapat saling melengkapi satu sama lain.
            Aku ingin membagi cerita tentang sedikit perjalanan dakwah seorang pemuda yang sering dipanggil Irfan ini di fakultasnya yaitu di Fakultas Pertanian UGM kepada teman-teman. Cerita ini cerita nyata sesuai dengan ingatanku. Kisah ketika aku pertama kali diangkat untuk menjabat amanah yang sangat penting di KMMP hingga kisah tentang pengalaman kecelakaan serius yang aku alami. Semoga teman-teman dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman yang aku alami selama ini.

Awal Tahun 2009
            Musyawarah besar, inilah tempat kami harus mempertanggung jawabkan apa yang telah diamanahkan kepada kami. Musyawarah ini salah satu pemegang peran penting yang akan merubah struktur armada dakwah di Pertanian. Setelah selesai menyampaikan pertanggungjawaban maka tibalah saat dimana pemilihan ketua KMMP. Berbagai persyaratan dan pertimbangan ditentukan untuk menentukan calon. Pertanyaan tentang kesanggupan pun dilontarkan kepada bakal calon. Aku harus jujur dan mendengarkan nurani untuk menjawabnya karena tidak ada satupun alasan yang memberatkanku untuk maju menjadi calon ketua. Pada akhirnya terpilihlah dua calon untuk dipilih menjadi ketua KMMP.
            Pengasingan para calon untuk penentuan siapa yang terpilih menjadi ketua pun dilakukan, hhh.. betapa jenuhnya harus keluar ruangan untuk pada akhirnya salah satu dari kita harus menerima amanah yang berat itu. Pada akhirnya, pada hasilnya, dan pada keputusannya mereka memilihku untuk menjadi ketua KMMP. Ya Allah.. apa ini, apa lagi cobaan ini, sungguh sedari dulu tak ada dalam fikirku aku mendapat amanah ini. Ah.. tapi jika ini keputusan Allah yang diturunkan melalui mubes ini aku harus bagaimana lagi. Yang kutahu Allah tidak akan memberikan sesuatu diluar kemampuan hambanya.
            ”Maka sungguh beserta kesulitan ada kemudahan. Sungguh beserta kesulitan ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap”. (Q.S. Al-Insyirah [94]: 5-8)
            Hari berganti hari setelah pemilihan itu. Waktunya ujian akhir semester dan kami pun menjalankan syuro di tengah-tengah ujian dengan semua anggota DFPO (Dewan Formatur dan Pengawas Oeganisasi) yang juga telah terpilih dalam mubes untuk menentukan struktur kepengurusan KMMP beserta para personilnya. Berbagai bentuk struktur diwacanakan dan juga beberapa orang dicoba untuk dijadikan sebagai penegang posisi tersebut. Aku hanya berusaha mencalonkan seseorang untuk menjabat sekretaris jendral yaitu ukhti Retno untuk membantuku karena kita sudah bekerjasama sebelumnya di PSDM KMMP. Itulah yang aku lakukan setelah terpilih menjadi ketua dan sebelum dilantik secara resmi.

Minggu, 11 Januari 2009
            Pikirku saat itu aku tak hanya cukup mempersiapkan diri hanya dengan pengetahuan dan rencana yang akan aku persembahkan untuk KMMP. Tapi aku juga harus lebih dan lebih mendekatkan diri kepada yang maha penolong dan maha pemberi petunjuk yaitu Allah aza wa jalla. Selain itu juga aku meminta kepada MRku untuk bertemu untuk meminta nasehatnya. Ah ternyata beliau sedang tidak bisa karena lagi berada di kota Solo, tetapi beliau memintaku untuk menunggu tiga hari lagi.

Senin, 12 Januari 2009
            Hari itu atau tepatnya malam itu kami mendapat kabar bahwa Rofiqoh dan temannya, afwan saya lupa namanya, mengalami kecelakaan. Kami yang satu kontrakan saat itu aku, Ihsan, dan Erwin sangat terkejut. Kami berusaha untuk mengetahui keadaannya. Ternyata alhamdulillah kecelakaannya tidak serius dan sudah banyak teman-teman yang langsung datang menolongnya. Kamipun diberi kabar bahwa mereka dalam keadaan yang baik-baik saja. Sekali lagi kami bersyukur kepada Allah.
            Setelah itu kami bertiga berbincang-bincang pada malam itu. Kami membahas tentang kecelakaan yang dialami Rofiqoh dan temannya. Sambil bercanda kami mengingat-ingat berapa kali kami pernah jatuh dari motor. Kata teman-teman yang lain akulah yang paling sering terjatuh dari motor bahkan sebelum punya motor sendiri pun aku sudah sering terjatuh dari sepeda motor. Kami pun tertawa dan gembira karena teman kami yang baru saja terjatuh ternyata dalam kondisi yang baik.

            Wah, aku teringat bahwa aku selama ini belum memberitahukan kepada keluargaku bahwa aku terpilih menjadi ketua KMMP. Betapa bodohnya aku ini bahwa aku belum mendapat restu dari keluargaku terutama orangtuaku. Akupun menelepon ma’ku. Ketika ku beritahu dengan sedikit bercanda, beliau malah tertawa dan tidak mempercayainya. Ia juga tertawa karena saking tidak percayanya. Kakakku juga tertawa mendengar berita itu. Karena mereka begitu kaget karena anaknya bisa terpilih. Aku juga tertawa dan senang karena mereka tidak berkeberatan asalkan bisa mengatur waktu dengan baik saja.

Selasa, 13 Januari 2009
            Pagi itu aku yang paling dahulu mandi dibanding teman-teman yang lain karena aku ingin berangkat pagi ke “bawah”, istilah baru karena kami tinggal di dataran yang cukup tinggi, untuk suatu keperluan yang aku sendiri pun masih lupa sampai sekarang. Aku berpamitan dengan teman-teman setelah mengeluarkan motor untuk segera berangkat ke “bawah”. Bismillah, aku pun berangkat dari rumah sebelum pukul tujuh pagi.
            Aku mengendarai motorku dengan kecepatan yang tinggi menembus Jalan Kaliurang. Sesampainya di daerah Gentan aku disalip oleh pengendara motor lain dengan tanpa perhitungan sehingga motornya terserempet dengan motorku. Astaghfirullah.. rem mendadak pun terjadi yang aku lakukan. Hal ini mengakibatkan motorku berhenti mendadak dan akupun terlontar ke depan dan mendarat dengan kepala terlebih dahulu. Helm yang aku gunakan terbelah sehingga tidak bisa melindungi kepalaku dengan baik sehingga mengakibatkan kepalaku cedera, parah!! Setelah terjatuh aku sempat dapat duduk kembali dengan berpayah-payah sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
            Menurut kisah yang aku dengar, saat itu Polisi yang dengan ijin Allah sedang berada di tempat kejadian langsung menghubungi salah seorang temanku dengan melihat nomor telepon dari ponsel yang aku bawa. Setelah mendapat kabar tentangku, Ihsan langsung menghubungi ma’ku.
            Di Jakarta pada pagi hari itu tanggal 13 Januari ma’ dan kakakku sedang mengantar ayahku yang akan berangkat kerja. Ketika itu ma’ku mendengar ponselnya berbunyi. Beliau meminta kakakku masuk ke dalam rumah dan mengangkatnya. Ketika ia tahu bahwa yang nelpon adalah Ihsan maka ma’ku langsung menahan ayahku untuk berangkat kerja karena ia mulai memiliki firasat sesuatu telah terjadi denganku. Ternyata benar bahwa Ihsan membawa berita bahwa aku telah mengalami kecelakaan yang parah. Ma’ku pun langsung menghubungi tetangga rumah yang mempunyai anak yang telah berkeluarga di Jogja untuk melihat dan mengawasi kondisiku, mas Andri namanya. Dan ia pun langsung berangkat menuju RS Panti Nugroho.
            Di RS Panti Nugroho banyak teman yang langsung datang ke sana dan melihat betapa parahnya kondisiku. Mas Andri juga telah datang dan langsung berperan sebagai perwakilan orangtuaku. Ia kemudian diberitahu bahwa rumah sakit ini ternyata tidak mempunyai peralatan yang mencukupi untuk menangani aku dan mereka menyarankan agar aku dibawa ke RS Dr. Sardjito. Dan aku pun dipindahkan ke RS Dr. Sardjito.
            Dari Jakarta ayah dan ma’ku pun langsung terbang ke Jogja. Sesampainya di Jogja mereka langsung ke RS Dr. Sardjito dan langsung memenuhi persiapan agar aku dapat segera dioperasi. Ketika akan naik meja operasi ternyata ruang UGD di rumah sakit tersebut penuh hingga tidak dapat menampungku. Ayahku bingung harus dibawa kemana lagi anaknya ini. Segala puji bagi Allah yang selalu akan menolong bagi hamba-hambanya yang penyabar. Mas Andri langsung memberi tahu bahwa ada seorang bapak mertua dari masnyayang merupakan dokter anak  mempunyai teman dokter spesialis bedah syaraf yang baik yang bisa langsung membantu untuk menolongku. Dan ia, dr. Rahmat Andi Hartanto, Sp.Bs. namanya menyarankan agar aku dipindah ke RS PKU Muhammadiyah. Dan aku pun dipindahkan ke rumah sakit tersebut.
            Aku akhirnya menjalani operasi pemindahan tempurung kepala bagian kiri untuk diletakkan bertumpuk dengan tempurung kepala bagian tengah di RS PKU Muhammadiyah pada sekitar pukul tujuh malam, sekitar dua belas jam setelah kecelakaan. Kakakku, calon suaminya, dan juga Eyangku pun tiba di Jogja menyusul orangtuaku. Kakakku begitu khawatirnya karena menurut ilmu kedokteran aku yang telah mengalami pendarahan otak tingkat kedua harus dioperasi dalam waktu kurang dari tujuh jam setelah kecelakaan. Tapi itu hanyalah teori manusia dan tidak ada yang dapat tahu takdir Allah. Alhamdulillah operasi yang aku alami berhasil dengan baik walaupun statusku saat itu masih dalam keadaan tidak sadar. Dokter mengatakan operasi kedua untuk mengembalikan posisi tempurung kepalaku bisa dilakukan setelah aku membaik dan diperkirakan dalam waktu enam bulan lagi.

Hari-Hari  yang Penuh Makna
            Dalam keadaan tidak sadar banyak kenangan yang mengharukan walaupun kenangan itu aku dapat dari cerita keluarga dan teman-teman. Banyak doa yang dipanjatkan untuk kesembuhanku dari orang-orang yang beriman dan bertakwa. Banyaknya teman-teman yang siap mendonorkan darah untukku. Banyak keluargaku yang datang melihat keadaanku dari Jakarta dan juga dari Medan. Banyak teman-teman yang juga datang melihat keadaanku dari kota-kota lain seperti teman SMAku dulu juga dari Universitas kota lain anggota IMMPERTI (Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian Indonesia), aku juga mempunyai amanah sebagai penanggungjawab PSDM IMMPERTI.
            Setelah dua minggu akhirnya aku sadar. Kemudian seiring waktu aku semakin membaik dalam seminggu. Maha Suci Allah yang membuatku membaik lebih cepat dari perkiraan dokter. Dokter pun bersyukur kepada Allah dan memutuskan untuk segera melaksanakan operasiku yang ke dua. Operasi yang ke dua dilaksanakan pada hari Senin, tanggal dua Februari. Dan Operasi ini dengan ijin Allah telah berhasil. Seiring berjalannya waktu aku akhirnya semakin membaik dan bisa berjalan walaupun belum bisa terlalu lama. Aku sudah bisa keluar dari rumah sakit seminggu kemudian walaupun aku harus tetap control ke dokter selama seminggu sekali kemudia berangsur-angsur menjadi dua minggu sekali dan akhirnya aku tidak perlu control lagi kalau sudah tidak ada keluhan.
            Hari-hari yang berat bagiku dan keluargaku karena semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan juga kakakku akan melangsungkan pernikahan pada tahun ini. Tapi Allah tidak akan memberikan ujian yang diluar kesanggupan hambanya. Dan Allah pun memberikan pertolongan melalui jalur-jalur yang tidak diketahui hambanya. Allah memberikan pertolongan berupa kesembuhanku yang lebih cepat dari perkiraan semua orang. Allah memberikan pertolongan dalam bentuk banyak orang yang beriman mendoakanku seperti anak-anak suatu panti asuhan di Jogjakarta, jamaah Masjid di lingkungan rumahku, dan juga teman-temanku di Jogja, Jakarta, dan juga banyak di kota-kota lain di Indonesia. Allah memberikan pertolongan berupa bantuan rezeki melalui Opungku di Medan, pemimpin perusahaan tempat ayahku bekerja, dana dari asuransi Jasa Raharja, dana dari GMC Gadjah Mada dan juga dari tempat-tempat lain yang Allah kirimkan kepada kami. Allah juga memberikan limpahan dan rahmatnya, hingga acara pernikahan kakakku dapat tetap berlangsung dan aku dapat menghadirinya.
            Dalam waktu-waktu itu, dalam kejadian itu terdapat banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur insan-insan armada dakwah pertanian. Allah ternyata mempunyai rencana yang lebih baik untukku dan teman-temanku. Amanahku sebagai ketua umum KMMP diganti oleh temanku Ihsan yang mempunyai jiwa siyasi yang kental. Ukhti Retno yang ketika itu telah menyanggupi menjadi sekjen digantikan oleh ukhti Afni yang dimana kedua orang ini mempunyai karakter yang berbeda. Dan ukhti Retno menggantikanku sebagai penanggungjawab PSDM IMMPERTI.
            Ah betapa sedihnya aku karena beban-beban amanahku dilimpahkan kepada mereka. Tetapi Subhanallah semua telah terlihat dalam waktu sekarang ini bahwa semua yang direncanakan oleh Allah adalah yang terbaik untuk semua hamba-hambanya, baik untukku, baik untuk teman-temanku, baik untuk KMMP, dan juga baik untuk dakwah pertanian itu sendiri. Dan sekarang aku juga telah memegang amanah sebagai penanggungjawab AAI Fakultas Pertanian UGM.
            Ya itulah takdir Allah, tidak ada yang dapat menghindarinya. Jika kita ditimpa musibah atau dikaruniai nikmat, maka menisbatkannya kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hal yang baik. Tapi dalam berbuat maksiat, janganlah kita menisbat. Karena selalu ada ruang di antara pengaruh dan tanggapan kita. Ruang itu berisi pilihan-pilihan. Itulah gunanya misteri keindahan takdir. Kita dapat memilihnya dengan menyusun cita dan rencana kita dari berbagai pilihan. Lalu kita dapat lari dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain, tentu dengan takdir Allah juga.
            Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

Perjalanan Dakwah Sang Perantau, saat hari tanpa bayangan
ahmad Irfan syahindra “batubara”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar