Ahmad Irfan Syahindra “Batubara”. Itulah namaku, seorang pemuda kelahiran Jakarta, 22 Desember 1987. Ayahku
berdarah Mandailing, suku yang berasal dari Sumatra Utara, ma’ku berdarah Jawa
dari kota Kebumen. Aku juga mempunyai kakak perempuan yang sekarang telah menjadi seorang dokter sehingga aku dan kakakku mempunyai
darah dan karakter dari kedua daerah ayah dan ma’ kami, walaupun kakakku
mempunyai wajah dan karakter lebih mirip ayahku dan aku mempunyai wajah dan
karakter yang lebih mirip ma’ku. Sehingga kami adalah
kakak beradik yang dapat saling melengkapi satu sama lain.
Aku
ingin membagi cerita tentang sedikit perjalanan dakwah seorang pemuda yang
sering dipanggil Irfan ini di fakultasnya yaitu di Fakultas Pertanian UGM kepada
teman-teman. Cerita ini cerita nyata sesuai dengan ingatanku. Kisah ketika aku pertama kali diangkat untuk menjabat amanah yang sangat penting di KMMP hingga kisah tentang pengalaman kecelakaan
serius yang aku alami. Semoga teman-teman dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari pengalaman yang
aku alami selama ini.
Awal Tahun 2009
Musyawarah besar, inilah tempat kami
harus mempertanggung jawabkan apa yang telah diamanahkan kepada kami. Musyawarah
ini salah satu pemegang peran penting yang akan merubah struktur armada dakwah
di Pertanian. Setelah selesai menyampaikan pertanggungjawaban maka tibalah saat
dimana pemilihan ketua KMMP. Berbagai persyaratan dan pertimbangan ditentukan
untuk menentukan calon. Pertanyaan tentang kesanggupan pun dilontarkan kepada
bakal calon. Aku harus jujur dan mendengarkan nurani untuk menjawabnya karena
tidak ada satupun alasan yang memberatkanku untuk maju menjadi calon ketua. Pada
akhirnya terpilihlah dua calon untuk dipilih menjadi ketua KMMP.
Pengasingan para calon untuk
penentuan siapa yang terpilih menjadi ketua pun dilakukan, hhh.. betapa jenuhnya
harus keluar ruangan untuk pada akhirnya salah satu dari kita harus menerima
amanah yang berat itu. Pada akhirnya, pada hasilnya, dan pada keputusannya
mereka memilihku untuk menjadi ketua KMMP. Ya Allah.. apa ini, apa lagi cobaan
ini, sungguh sedari dulu tak ada dalam fikirku aku mendapat amanah ini. Ah..
tapi jika ini keputusan Allah yang diturunkan melalui mubes ini aku harus
bagaimana lagi. Yang kutahu Allah tidak akan memberikan sesuatu diluar
kemampuan hambanya.
”Maka
sungguh beserta kesulitan ada kemudahan. Sungguh beserta kesulitan ada
kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya
kamu berharap”. (Q.S. Al-Insyirah
[94]: 5-8)
Hari
berganti hari setelah pemilihan itu. Waktunya ujian
akhir semester dan kami pun
menjalankan syuro di tengah-tengah ujian dengan semua anggota DFPO (Dewan Formatur dan Pengawas
Oeganisasi) yang juga telah terpilih dalam mubes untuk menentukan struktur
kepengurusan KMMP beserta para personilnya. Berbagai bentuk struktur
diwacanakan dan juga beberapa orang dicoba untuk dijadikan sebagai penegang
posisi tersebut. Aku hanya berusaha mencalonkan seseorang untuk menjabat
sekretaris jendral yaitu ukhti Retno untuk membantuku karena kita sudah bekerjasama
sebelumnya di PSDM KMMP. Itulah yang aku lakukan setelah terpilih menjadi ketua
dan sebelum dilantik secara resmi.
Minggu,
11 Januari 2009
Pikirku saat itu aku tak hanya cukup
mempersiapkan diri hanya dengan pengetahuan dan rencana yang akan aku
persembahkan untuk KMMP. Tapi aku juga harus lebih dan lebih mendekatkan diri
kepada yang maha penolong dan maha pemberi petunjuk yaitu Allah aza wa jalla.
Selain itu juga aku meminta kepada MRku untuk bertemu untuk meminta nasehatnya.
Ah ternyata beliau sedang tidak bisa karena lagi berada di kota Solo, tetapi
beliau memintaku untuk menunggu tiga hari lagi.
Senin,
12 Januari 2009
Hari
itu atau tepatnya malam itu kami mendapat kabar bahwa Rofiqoh dan temannya,
afwan saya lupa namanya, mengalami kecelakaan. Kami yang satu kontrakan saat
itu aku, Ihsan, dan Erwin sangat terkejut. Kami berusaha untuk mengetahui
keadaannya. Ternyata alhamdulillah kecelakaannya tidak serius dan sudah banyak
teman-teman yang langsung datang menolongnya. Kamipun diberi kabar bahwa mereka
dalam keadaan yang baik-baik saja. Sekali lagi kami bersyukur kepada Allah.
Setelah
itu kami bertiga berbincang-bincang pada malam itu. Kami membahas tentang
kecelakaan yang dialami Rofiqoh dan temannya. Sambil bercanda kami
mengingat-ingat berapa kali kami pernah jatuh dari motor. Kata teman-teman yang
lain akulah yang paling sering terjatuh dari motor bahkan sebelum punya motor
sendiri pun aku sudah sering terjatuh dari sepeda motor. Kami pun tertawa dan
gembira karena teman kami yang baru saja terjatuh ternyata dalam kondisi yang
baik.
Wah, aku teringat bahwa aku selama
ini belum memberitahukan kepada keluargaku bahwa aku terpilih menjadi ketua
KMMP. Betapa bodohnya aku ini bahwa aku belum mendapat restu dari keluargaku
terutama orangtuaku. Akupun menelepon ma’ku. Ketika ku beritahu dengan sedikit
bercanda, beliau malah tertawa dan tidak mempercayainya. Ia juga tertawa karena
saking tidak percayanya. Kakakku juga tertawa mendengar berita itu. Karena
mereka begitu kaget karena anaknya bisa terpilih. Aku juga tertawa dan senang
karena mereka tidak berkeberatan asalkan bisa mengatur waktu dengan baik saja.
Selasa,
13 Januari 2009
Pagi
itu aku yang paling dahulu mandi dibanding teman-teman yang lain karena aku
ingin berangkat pagi ke “bawah”, istilah baru karena kami tinggal di dataran
yang cukup tinggi, untuk suatu keperluan yang aku sendiri pun masih lupa sampai
sekarang. Aku berpamitan dengan teman-teman setelah mengeluarkan motor untuk
segera berangkat ke “bawah”. Bismillah, aku pun berangkat dari rumah sebelum
pukul tujuh pagi.
Aku
mengendarai motorku dengan kecepatan yang tinggi menembus Jalan Kaliurang.
Sesampainya di daerah Gentan aku disalip oleh pengendara motor lain dengan
tanpa perhitungan sehingga motornya terserempet dengan motorku.
Astaghfirullah.. rem mendadak pun terjadi yang aku lakukan. Hal ini
mengakibatkan motorku berhenti mendadak dan akupun terlontar ke depan dan
mendarat dengan kepala terlebih dahulu. Helm yang aku gunakan terbelah sehingga
tidak bisa melindungi kepalaku dengan baik sehingga mengakibatkan kepalaku
cedera, parah!! Setelah terjatuh aku sempat dapat duduk kembali dengan
berpayah-payah sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Menurut
kisah yang aku dengar, saat itu Polisi yang dengan ijin Allah sedang berada di
tempat kejadian langsung menghubungi salah seorang temanku dengan melihat nomor
telepon dari ponsel yang aku bawa. Setelah mendapat kabar tentangku, Ihsan langsung
menghubungi ma’ku.
Di
Jakarta pada pagi hari itu tanggal 13 Januari ma’ dan kakakku sedang mengantar
ayahku yang akan berangkat kerja. Ketika itu ma’ku mendengar ponselnya
berbunyi. Beliau meminta kakakku masuk ke dalam rumah dan mengangkatnya. Ketika
ia tahu bahwa yang nelpon adalah Ihsan maka ma’ku langsung menahan ayahku untuk
berangkat kerja karena ia mulai memiliki firasat sesuatu telah terjadi
denganku. Ternyata benar bahwa Ihsan membawa berita bahwa aku telah mengalami
kecelakaan yang parah. Ma’ku pun langsung menghubungi tetangga rumah yang
mempunyai anak yang telah berkeluarga di Jogja untuk melihat dan mengawasi
kondisiku, mas Andri namanya. Dan ia pun langsung berangkat menuju RS Panti
Nugroho.
Di
RS Panti Nugroho banyak teman yang langsung datang ke sana dan melihat betapa
parahnya kondisiku. Mas Andri juga telah datang dan langsung berperan sebagai
perwakilan orangtuaku. Ia kemudian diberitahu bahwa rumah sakit ini ternyata
tidak mempunyai peralatan yang mencukupi untuk menangani aku dan mereka
menyarankan agar aku dibawa ke RS Dr. Sardjito. Dan aku pun dipindahkan ke RS Dr.
Sardjito.
Dari
Jakarta ayah dan ma’ku pun langsung terbang ke Jogja. Sesampainya di Jogja
mereka langsung ke RS Dr. Sardjito dan langsung memenuhi persiapan agar aku dapat
segera dioperasi. Ketika akan naik meja operasi ternyata ruang UGD di rumah
sakit tersebut penuh hingga tidak dapat menampungku. Ayahku bingung harus
dibawa kemana lagi anaknya ini. Segala puji bagi Allah yang selalu akan
menolong bagi hamba-hambanya yang penyabar. Mas Andri langsung memberi tahu
bahwa ada seorang bapak mertua dari masnyayang merupakan dokter anak mempunyai teman dokter spesialis bedah syaraf
yang baik yang bisa langsung membantu untuk menolongku. Dan ia, dr. Rahmat Andi
Hartanto, Sp.Bs. namanya menyarankan agar aku dipindah ke RS PKU Muhammadiyah.
Dan aku pun dipindahkan ke rumah sakit tersebut.
Aku akhirnya menjalani operasi pemindahan
tempurung kepala bagian kiri untuk diletakkan bertumpuk dengan tempurung kepala
bagian tengah di RS PKU Muhammadiyah pada sekitar pukul tujuh malam, sekitar
dua belas jam setelah kecelakaan. Kakakku, calon suaminya, dan juga Eyangku pun
tiba di Jogja menyusul orangtuaku. Kakakku begitu khawatirnya karena menurut
ilmu kedokteran aku yang telah mengalami pendarahan otak tingkat kedua harus
dioperasi dalam waktu kurang dari tujuh jam setelah kecelakaan. Tapi itu
hanyalah teori manusia dan tidak ada yang dapat tahu takdir Allah.
Alhamdulillah operasi yang aku alami berhasil dengan baik walaupun statusku saat
itu masih dalam keadaan tidak sadar. Dokter mengatakan operasi kedua untuk
mengembalikan posisi tempurung kepalaku bisa dilakukan setelah aku membaik dan
diperkirakan dalam waktu enam bulan lagi.
Hari-Hari yang Penuh
Makna
Dalam
keadaan tidak sadar banyak kenangan yang mengharukan walaupun kenangan itu aku
dapat dari cerita keluarga dan teman-teman. Banyak doa yang dipanjatkan untuk
kesembuhanku dari orang-orang yang beriman dan bertakwa. Banyaknya teman-teman
yang siap mendonorkan darah untukku. Banyak keluargaku yang datang melihat
keadaanku dari Jakarta dan juga dari Medan. Banyak teman-teman yang juga datang
melihat keadaanku dari kota-kota lain seperti teman SMAku dulu juga dari
Universitas kota lain anggota IMMPERTI (Ikatan Mahasiswa Muslim Pertanian
Indonesia), aku juga mempunyai amanah sebagai penanggungjawab PSDM IMMPERTI.
Setelah
dua minggu akhirnya aku sadar. Kemudian seiring waktu aku semakin membaik dalam
seminggu. Maha Suci Allah yang membuatku membaik lebih cepat dari perkiraan
dokter. Dokter pun bersyukur kepada Allah dan memutuskan untuk segera
melaksanakan operasiku yang ke dua. Operasi yang ke dua dilaksanakan pada hari
Senin, tanggal dua Februari. Dan Operasi ini dengan ijin Allah telah berhasil.
Seiring berjalannya waktu aku akhirnya semakin membaik dan bisa berjalan
walaupun belum bisa terlalu lama. Aku sudah bisa keluar dari rumah sakit
seminggu kemudian walaupun aku
harus tetap control ke dokter selama seminggu sekali kemudia berangsur-angsur
menjadi dua minggu sekali dan akhirnya aku tidak perlu control lagi kalau sudah
tidak ada keluhan.
Hari-hari yang berat bagiku dan
keluargaku karena semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan juga
kakakku akan melangsungkan pernikahan pada tahun ini. Tapi Allah tidak akan
memberikan ujian yang diluar kesanggupan hambanya. Dan Allah pun memberikan
pertolongan melalui jalur-jalur yang tidak diketahui hambanya. Allah memberikan
pertolongan berupa kesembuhanku yang lebih cepat dari perkiraan semua orang.
Allah memberikan pertolongan dalam bentuk banyak orang yang beriman mendoakanku
seperti anak-anak suatu panti asuhan di Jogjakarta, jamaah Masjid di lingkungan
rumahku, dan juga teman-temanku di Jogja, Jakarta, dan juga banyak di kota-kota
lain di Indonesia. Allah memberikan pertolongan berupa bantuan rezeki melalui Opungku
di Medan, pemimpin perusahaan tempat ayahku bekerja, dana dari asuransi Jasa
Raharja, dana dari GMC Gadjah Mada dan juga dari tempat-tempat lain yang Allah
kirimkan kepada kami. Allah juga memberikan limpahan dan rahmatnya, hingga
acara pernikahan kakakku dapat tetap berlangsung dan aku dapat menghadirinya.
Dalam
waktu-waktu itu, dalam kejadian itu terdapat banyak sekali perubahan-perubahan
yang terjadi dalam struktur insan-insan armada dakwah pertanian. Allah ternyata
mempunyai rencana yang lebih baik untukku dan teman-temanku. Amanahku sebagai ketua umum KMMP diganti oleh temanku
Ihsan yang mempunyai jiwa siyasi yang kental. Ukhti Retno yang ketika itu telah
menyanggupi menjadi sekjen digantikan oleh ukhti Afni yang dimana kedua orang
ini mempunyai karakter yang berbeda. Dan ukhti Retno menggantikanku sebagai
penanggungjawab PSDM IMMPERTI.
Ah betapa sedihnya aku karena beban-beban
amanahku dilimpahkan kepada mereka. Tetapi Subhanallah semua telah terlihat
dalam waktu sekarang ini bahwa semua yang direncanakan oleh Allah adalah yang
terbaik untuk semua hamba-hambanya, baik untukku, baik untuk teman-temanku,
baik untuk KMMP, dan juga baik untuk dakwah pertanian itu sendiri. Dan sekarang
aku juga telah memegang amanah sebagai penanggungjawab AAI Fakultas Pertanian
UGM.
Ya itulah takdir Allah, tidak ada
yang dapat menghindarinya. Jika kita ditimpa musibah atau dikaruniai nikmat,
maka menisbatkannya kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hal yang baik. Tapi
dalam berbuat maksiat, janganlah kita menisbat. Karena selalu ada ruang di
antara pengaruh dan tanggapan kita. Ruang itu berisi pilihan-pilihan. Itulah
gunanya misteri keindahan takdir. Kita dapat memilihnya dengan menyusun cita
dan rencana kita dari berbagai pilihan. Lalu kita dapat lari dari takdir Allah
yang satu ke takdir Allah yang lain, tentu dengan takdir Allah juga.
“Diwajibkan
atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (Q.S.
Al-Baqarah [2]: 216)
Perjalanan Dakwah Sang Perantau, saat hari tanpa bayangan
ahmad Irfan syahindra “batubara”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar